Senin, 10 Mei 2010

Peningkatan Produksi Beras dan Diversifikasi Pangan Lokal untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional

Yoga Setiawan S. - Kategori Pertanian dan Pangan

Sejarah 
Indonesia adalah negara agraris. Lebih dari empat abad silam, jauh sebelum Belanda dan penjajah lainnya masuk dan menjajah Indonesia, tinta emas pertanian Indonesia telah rapi tergoreskan. Sebagai kelanjutan dari sistem lama, yaitu sistem berburu dan meramu, dua sistem pertanian yang lebih modern yaitu sistem perladangan dan sistem persawahan telah terbentuk dan sangat berkembang di wilayah Indonesia.

Jawa sebagai pusat pertanian di masa itu telah mengusahakan kedua sistem tersebut. Di pedalaman Jawa saat itu, sistem persawahan telah sangat berkembang. Sementara semakin ke timur atau ke barat, sistem itu mulai banyak berkurang. Sistem persawahan dianggap lebih maju daripada perladangan karena dapat menghasilkan komoditi yang lebih banyak dan lebih terkontrol dengan satu jenis tanaman, padi misalnya.

Memasuki zaman penjajahan, motivasi utama para penjajah masuk ke Indonesia adalah tertarik akan hasil bumi Indonesia. Saat pertama kali menjajah, mereka sengaja membiarkan para petani pribumi tetap melakukan usaha tani menurut keinginan petani itu sendiri. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan daerah, hasil bumi tersebut juga dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia saat itu. Seiring berjalannya waktu, paham-paham kapitalis mulai merajalela. Petani yang dulunya bercocok tanam dengan beragam jenis tanaman terpaksa beralih pada beberapa jenis tanaman saja yang sangat laku di pasaran karena diperintah oleh oknum-oknum penjajah sebagai pemilik modal.

Saat harga hasil perkebunan di pasaran dunia naik, sektor pertanian di dalam negeri mulai turun dan melemah. Tanah dan pekerja tidak lagi digunakan untuk memproduksi tanaman pangan untuk rakyat, melainkan didorong untuk terus memproduksi tanaman yang laku di pasar dunia seperti tebu, kopi, nila dan tembakau. Keterpurukan ini pun masih terus berlanjut hingga Indonesia merdeka. Ketersediaan bahan pangan pokok bagi bangsa Indonesia semakin menipis seiring meningkatnya produksi bahan-bahan di atas. Selain itu ketergantungan pada beras sebagai makanan pokok semakin memperburuk keadaan. Produksi beras banyak berkurang karena lahan untuk beras banyak dialihkan untuk menanam tanaman-tanaman di atas. Karena itu penduduk desa semakin bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara meningkatkan produksi tanaman pangan di lahan yang sangat terbatas.

Ketahanan Pangan
“Hidup matinya suatu bangsa ditentukan oleh ketahanan pangan negara”, itulah salah satu kutipan dari pidato Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia saat peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia. Jika ditelaah lebih lanjut, kutipan ini dapat dijadikan sebuah cambuk motivasi untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan Indonesia, juga dapat pula dijadikan sebuah refleksi diri, cerminan yang memang perlu kita sadari bahwa pertanian kita sedang terpuruk. Sekilas dari kutipan Bung Karno di atas, yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apa itu ketahanan pangan? Sebegitu pentingnya ketahanan pangan itu sendiri hingga hidup mati bangsa ini tergantung padanya? Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Hari Pangan Sedunia pada 5 Desember 2007 di Bandar Lampung mengatakan,

Sebuah negara dikatakan memiliki ketahanan pangan yang baik apabila pangan itu tersedia, rakyat dapat membeli dengan harga terjangkau dan kita tidak harus tergantung secara mutlak kepada sumber-sumber pangan negara lain.(Poerwanto Roedhy, dkk dalam PIP Tim Penyusun 2009).

Dijelaskan pula dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 yang diartikan, ketahanan pangan adalah sebuah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

Hal lain dinyatakan oleh Hasan (1995) dalam A. Rakhman  bahwa ketahanan pangan sampai tingkat rumah tangga antara lain tercermin oleh tersedianya pangan yang cukup dan merata pada setiap waktu dan terjangkau oleh masyarakat baik fisik maupun ekonomi serta tercapainya konsumsi pangan yang beraneka ragam, yang memenuhi syarat-syarat gizi yang diterima budaya setempat.

Krisis Pangan
Sebagai kebutuhan dasar manusia, pangan memegang peranan penting di kehidupan masing-masing. Pemenuhan pangan yang berkualitas dan tercukupi menjadi hak azasi setiap warga negara demi melaksanakan pembangunan yang berkualitas pula. Dari pemahaman di atas tentang ketahanan pangan, keterbatasan pangan pada individu saja telah mencerminkan keterbatasan pangan pada tingkat masyarakat juga.

Ketergantungan akan beras sebagai makanan pokok bangsa Indonesia yang diimbangi dengan keterbatasan produksi beras domestik menyebabkan tingginya angka impor beras dari tahun ke tahun. Walaupun beberapa tahun lalu pemerintah telah menekan angka impor beras sebesar mungkin dengan swasembada beras besar-besaran, tetapi masih saja tidak dapat memenuhi kebutuhan beras dalam negeri.

Tak hanya beras, hal yang sama juga menimpa kedelai, gandum bahkan singkong yang notabenenya adalah bahan pangan yang banyak terdapat di Indonesia. Kedelai dan singkong juga termasuk salah satu komoditi yang semakin banyak diimpor oleh Indonesia. Di sisi lain juga angka impor gandum dari tahun ke tahun semaikin tinggi karena Indonesia belum bisa dan belum berkeinginan memproduksi gandum dalam jumlah yang besar.

Tabel 1: Beberapa Komoditas Pangan yang Masih Diimpor Indonesia
No.
Nama Komoditas
Kebutuhan / Tahun
1
Beras
2 juta ton
2
Kedelai
1,2 juta ton
3
Gandum  
5 juta ton
4
Kacang Tanah
800 ribu ton
5
Kacang Hijau
300 ribu ton
6
Gaplek
900 ribu ton
7
Sapi
600 ribu ton
8
Susu
964 ribu ton (70%)

Dengan potensi sumberdaya alam yang cukup melimpah, sebenarnya negara kita dapat mencukupi seluruh kebutuhan pangan dalam negeri asalkan dapat mengelolanya dengan bijak. Dari penjelasan di atas, dalam sejarah bangsa memang telah dijelaskan, konsumsi beras yang berlebihan juga disebabkan karena ketergantungan pada beras sebagai bahan pangan utama, padahal masih banyak lagi sumber pangan pokok yang cukup melimpah di negeri ini, seperti singkong dan jagung.

Saat ini pemerintah telah menetapkan, kebutuhan akan bahan pangan impor dapat ditekan sekecil mungkin. Pada tahun 2015, diusahakan produksi bahan pangan pokok dalam negeri dapat memenuhi seperdua dari kekurangan kebutuhan pada tahun-tahun ini, dengan standar kekurangan adalah tingkat kelaparan di masyarakat. Dan pada 2020 diperkirakan pemenuhan kebutuhan dalam negeri akan bahan pangan pokok dan pencapaian gizi seimbang dapat sepenuhnya terpenuhi, seperti terlihat dalam tabel 2.
Tabel 2: Konsumsi dan Penyediaan Pangan di Indonesia dengan Mengacu PPH pada tahun 2020  (hanya  menuliskan padi-padian dan umbi-umbian)

No.
Kelompok / Jenis Pangan
Konsumsi
Penyediaan
1
Padi-padian
------
------
Beras
21.728
23.901
Jagung
307
337
Terigu
1.961
2.158
Subtotal Padi-padian
23.987
26.386
2
Umbi-umbian
------
------
Ubi Kayu
5.242
5.767
Ubi Jalar
1.233
1.357
Sagu
222
245
Kentang
768
845
Umbi Lainnya
384
423
Subtotal Umbi-umbian
7.850
8.635

Peningkatan Produksi Beras
Ketersediaan beras sebagai makanan pokok di Indonesia sangatlah penting dan harus diperhatikan. Angka impor beras Indonesia terbilang sangat tinggi walaupun beberapa tahun terakhir ini sudah mulai menurun. Berarti, konsumsi beras dalam negeri jauh melebihi kapasitas dan kemampuan produksinya. Hal ini sangat mengganggu ketahanan pangan negara, karena kebutuhan pangan masih sangat tergantung pada negara lain.

Ada dua jalan yang harus ditempuh untuk mengatasi masalah ketahanan pangan ini, yaitu dengan cara meningkatkan produksi beras dan mengurangi konsumsi beras rumah tangga maupun industri. Untuk meningkatkan produksi beras dalam negeri ada beberapa upaya yang harus dilakukan, diantaranya adalah meningkatkan kemampuan produksi beras nasional, memelihara kapasitas sumberdaya produksi serta meningkatkan produktifitas usaha pangan .

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi beras nasional adalah dengan pemeliharaan kapasitas sumberdaya lahan dan perairan, perluasan lahan baku produksi, peningkatan intensitas tanam, peningkatan produktifitas dan penekanan kehilangan hasil. Selain itu upaya untuk memelihara kapasitas produksi dapat dilakukan dengan cara rehabilitasi sistem irigasi, menekan alih fungsi lahan ke non-pertanian serta membuka lokasi pertanian baru. Dan yang terakhir upaya memacu peningkatan produktifitas usaha pangan mencangkup; (i) penciptaan varietas unggul baru dan teknologi berproduksi yang lebih efisien; (ii) teknologi pasca panen untuk menekan kehilangan hasil; dan (iii) teknologi yang menunjang peningkatan intensitas tanam.

Diversifikasi Pangan
Program diversifikasi pangan sebenarnya telah ada lima puluhan tahun yang lalu, namun kebijakan ini mengalami pasang surut. Kekuatan utama program ini adalah adanya kebijakan tertulis dan tujuan diversifikasi pangan baik dalam Repelita (sebelum tahun 2000), dalam Propenas (setelah tahun 2000) dan dalam dokumen rencana strategis berbagai instansi di jajaran Deptan, Deperindag, dan Depkes.

Program ini bertujuan untuk mengalihkan sebagian konsumsi karbohidrat masyarakat dari beras menuju sumber pangan pokok non-beras sebagai upaya untuk mengurangi konsumsi beras dalam negeri. Ini dapat dilakukan dengan suatu penggalakan gerakan dengan memanfaatkan sumber kalori, protein dan karbohidrat lainnya yang dapat diproduksi secara lokal.

Masih banyak sumber pangan lokal yang memiliki kalori, protein dan karbohidrat yang cukup tinggi selain beras. Diantaranya adalah singkong, jagung, ubi kayu, talas, ubi jalar, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau.

Jagung (Zea mays L.)
Jagung merupakan tanaman golongan rumputan kedua yang paling luas dibudidayakan di Indonesia setelah padi. Komoditas ini memiliki potensi untuk menyangga kebutuhan pangan non beras karena kandungan terbesar biji jagung adalah karbohidrat, dan potensial digunakan sebagai bahan baku industri. Menurut Grubben dan Soetjipto (1996) jagung dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai industri pangan, minuman, kimia dan farmasi serta industri lainnya. Dari 100 kg jagung dapat diperoleh 3.5 – 4 kg minyak jagung, 27 – 30 kg bungkil, pakan, gluten, serat dan sebagainya, serta 64 – 67 kg pati, dan sisanya 15 – 25 kg hilang atau terbuang. Jagung berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku diversifikasi pangan karena mengandung Karbohidrat yang setara dengan serealia lainnya dan fisikokimia dari pati jagung memiliki karakteristik fungsional sebagai dietary fiber, beta karotin dan besi.

Ubi Kayu/Singkong/Ketela Pohon (Manihot esculenta Crantz)
Di Indonesia, ketela pohon menjadi pangan pokok setelah beras dan jagung. Di beberapa tempat, tanaman ubi kayu ini dianggap sebagai cadangan pangan dan lumbung hidup. Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionin. Umbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Rasanya sedikit manis, ada pula yang pahit tergantung pada kandungan racun glukosida yang dapat membentuk asam sianida. Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi akar yang masih segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada jenis singkong yang manis, proses pemasakan sangat diperlukan untuk menurunkan kadar racunnya. Dari umbi ini dapat pula dibuat tepung tapioka.

Ubi Jalar/Ketela Rambat (Ipomoea batatas L.) 
Ubi jalar atau ketela rambat (Ipomoea batatas L.) adalah sejenis tanaman budidaya. Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. Di Afrika, umbi ubi jalar menjadi salah satu sumber makanan pokok yang penting. Di Asia, selain dimanfaatkan umbinya, daun muda ubi jalar juga dibuat sayuran. Terdapat pula ubi jalar yang dijadikan tanaman hias karena keindahan daunnya. Ubi jalar terutama yang berdaging umbi oranye atau kuning memiliki potensi unggulan pada kandungan beta karoten (provitamin A) yang tinggi. Beta karoten atau provitamin A dalam ubi jalar diketahui memiliki banyak manfaat bagi tubuh, karena selain mampu memenuhi kebutuhan vitamin A juga berfungsi sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas dalam tubuh.

Tiga sumber pangan yang disebutkan di atas adalah sumber pangan yang sangat berpotensi dan banyak ditanam di Indonesia serta paling banyak mengandung karbohidrat sebagai pengganti utama beras. Selain yang disebutkan di atas, masih banyak lagi pengganti beras yang lain yang tidak hanya mengandung karbohidrat, tetapi juga protein seperti kedelai, kacang hijau dan kacang tanah yang juga dapat diusahakan di Indonesia sebagai negara agraris.

Bahan Bacaan 
PIP Tim Penyusun. 2009. Kumpulan Makalah Pengantar ke Ilmu-ilmu Pertanian. Bogor: IPB Press.
Purwono dan Heni Purnamawati. 2009. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Depok: Penebar Swadaya.
Link Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Singkong
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/8387/2/2007ara1.pdf
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/6594/1/Perspektif%20Baru%20IPB.pdf
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/5905/1/2003dah_dahrul.pdf
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/8191/1/14Qanytah.pdf
http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/8932/2/2006cme.pdf
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:CWezoyzmEVEJ:www.faperta.ugm.ac.id/kagama/download/GLOBALISASI_NASIB_SEKTOR_PERTANIAN_%2520INDONESIA.ppt+kedaulatan+pangan+dan+nasib+pertanian+di+indonesia&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c4/Koeh-283.jpg
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c4/Koeh-283.jpg


Reaksi:

1 komentar:

HIJJAZONE mengatakan...

Hereby I'd like to congrats all Ur effort to reach so far as well as U did Ur best. Hope We'll get our glory in this competition,,,, :-)

Juz visit http://www.hijjazone91.co.nr

Poskan Komentar

"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam"

 
Design by Yoga Setiawan Santoso | Free Blogger Template